Selasa, 1 Mei 2012 pukul 08.11 saya selaku Ketua Kelas menyerahkan Berkas Pengusulan Calon Kepala Sekolah, Peserta Diklat Cakep Angkatan III ke Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Gunungkidul. Penyerahan berkas ini sebenarnya agak lambat 1 (satu) hari dari deadline yang diberikan oleh Dinas. Dikarenakan salah satu peserta belum mengumpulkan berkasnya kepada saya, padahal dinas hanya mau menerima berkas tersebut apabila telah lengkap berjumlah 42 berkas, sesuai dengan jumlah peserta diklat.
Kebijakan ini memang bisa dipahami dengan tujuan supaya berkas yang sudah masuk mudah pengelolaannya. Bisa dibayangkan apabila penyerahan berkas tersebut tidak bersamaan, barangkali berkas susulan bisa-bisa terselip entah ke mana, mengingat tugas Dinas Dikpora tidak hanya mengurusi pemberkasan ini. Meski hari Senin, 30 April 2012 pukul 13.15 saya telah berupaya mengumpulkan sebanyak 41 (empat pulus satu) berkas sesuai tenggat waktu, dengan sedikit rayuan dan janji untuk bertanggung jawab menyusulkan 1 berkas yang belum masuk, tetapi petugas di dinas tetap tidak mau menerima. Sekali lagi, saya sangat memahami kebijakan ini. Toh, semuanya juga untuk kebaikan para alumni diklat juga.
Oke, tanpa berpanjang kata, bagi Bapak/Ibu Alumni Diklat Cakep Angkatan III yang berkeinginan mengunduh/download Tanda terima, silakan klik link di bawah ini.
Untuk mengunduh/download Tanda Terima Berkas halaman 1 silakan klik di sini
sedang untuk mengunduh/download Daftar Peserta Pemberkasan Kolektif silakan klik di sini
Ketika cinta telah menghujam dalam hati, takkan ada yang mampu menggesernya.
Selasa, Mei 01, 2012
Minggu, April 29, 2012
Membangun etos kerja : Sebuah keberanian guru muda
Pagi ini, Minggu 29 April 2012 ketika saya meluncur ke Wates, sebuah kota berjarak 40 KM dari arah Jogja, atau 85 KM arah barat dari rumahku, sebuah SMS masuk ke HPku yang berisi sahabatku mengirimkan sebuah email. Spontan saya langsung membuka email tersebut melalui HP. Kata demi kata saya telusuri dengan penuh keseriusan. Sampai di penghujung email yang dia tulis, seluruh tubuhku dipenuhi oleh rasa kagum yang sangat luar biasa. Email yang telah saya baca sekali tidak memberi kepuasan, hingga akhirnya dengan sedikit celingak-celinguk saya mencari warnet di pinggir jalan untuk mengulangi membaca email tersebut.
Apa yang membuat saya begitu "penasaran" bahkan boleh dikatakan "sangat bernafsu" dengan email tersebut? Hanya satu hal, teman saya tadi telah berbuat sangat luar biasa. Apa yang telah dilakukannya sangat inspiratif dan membutuhkan keberanian yang luar biasa. Sehingga mendorong saya untuk meminta izin kepadanya, supaya berkenan emailnya saya muat ulang pada catatan ini.
Anda penasaran?
Baiklah, dengan seizin beliau saya akan memuat ulang email tersebut, tentunya dengan sedikit perubahan supaya memenuhi kaidah kepenulisan yang tidak menyinggung perasaan seseorang. Bila anda seorang guru, saya sarankan membaca dengan teliti, resapi, dan renungkan apa yang telah dia lakukan.
Oke, tidak berpanjang kata, inilah email yang dia tulis.
Assalamu alaikum wr.wb. Alhamdulillah.....to the point ya..... Waktu itu acara pengukuhan pengawas ujian dan penulis ijazah. Setelah acara usai 2 bapak pengawas sekolah dan satu Ibu pengawas mengajak saya duduk berkumpul satu meja. Beliau ingin mengatahui lebih banyak pengalaman saya mengikuti diklat PKn SD Jenjang Lanjut di PPPTK PKn-IPS Batu, Jawa Timur yang baru saja saya ikuti. Saya bercerita apa adanya,tidak ada yang saya tutup-tutupi, saya kurangi atau saya tambah-tambahi. Setelah sekian lama berbincang-bincang beliau bertiga merasa apa yang saya ceritakan bisa menjadi bahan untuk mewujudkan harapan beliau terhadap perkembangan pendidikan di daerahku tercinta. Apalagi kinerja para guru pun sekarang diperhitungkan. Dalam bercerita saya juga menyampaikan bagaimana penilaian saya sebagai seorang peserta diklat terhadap peseta lain yang berasal dari sebuah kota (mohon maaf dengan beberapa perhitungan, nama kotanya saya hapus -eko) " Saya sangat terkesan dengan sifat dan sikap mereka dalam bergaul, menjalin persaudaraan, tidak pelit dengan ilmu yang dimiliki,bahkan dengan ikhlas membantu temannya yang membutuhkan, dan masih banyak lagi. Hal yang jarang dimiliki oleh guru di daerah kita. Kalaupun ada bisa dihitung dengan jari. Mereka merasa berat menularkan ilmu yang dimiliki, kecuali dengan embel-embel "WANI PIRO". Hal inilah barangkali yang menjadi alasan kenapa SDM guru daerah kita kurang berprestasi. Dalam bergaul pun memilih-milih. Mengukur materi dan status sosial. Jiwa sosial gurunya pun kurang. Mengajar belum tentu bisa mendidik.Terus terang ,saya sangat khawatir dengan pergaulan anak-anak dan pelajar di *********. Kurangnya disiplin dan tata krama kepada yang lebih tua,terutama orang tua. Peserta dari ***** inilah yang menjadi dan memberi inspirasi kepada saya agar bisa menjadi sosok guru yang diharapkan. Saya yakin jika guru-guru di ******** seperti sosok mereka, Insya Allah guru-guru di ******* akan mampu melahirkan anak-anak didik yang berprestasi dan berakhlak mulia. Kemudian kerja sama dari pihak Dinas terkait, juga menjadi nilai tersendiri untuk kemajuan prestasi para guru di *********, tidak ada sistim KKN, tapi berdasarkan prestasi di dalam keberhasilannya mendidik anak-anak didiknya. Maaf Bapak/Ibu Pengawas,saya bukan ingin menilai para guru di ******* tapi garis besarnya seperti itulah gambaran guru-guru kita di ********* Apalagi dengan adanya sertifikasi, mestinya kinerja para guru kan lebih bagus, bukan tambah malas. Hal itulah yang tidak terpantau oleh Pengawas. Karena mereka (para guru ) bisa membeli tenaga orang lain untuk menyelesaikan adminidtrasi mereka. Karena mereka beranggapan uang bisa menyelesaikan segalanya. Bapak/Ibu pengawas tadi juga menyampaikan hal yang sama, beliau sebetulnya sudah mengetahui tentang hal itu, katanya baru saya dan Almarhum Pak Andi yang punya keberanian menyampaikan hal ini. Apa yang saya sampaikan hampir sama dengan yang disampaikan Almarhum Pak Andi. Ya Allah,ampuni hamba,apakah yang saya lakukan ini benar............. saya hanya ingin mereka merubah perilaku agar patut dicontoh oleh anak didik mereka.
Itulah email yang yang berisi cerita dari sahabat saya. Coba anda bayangkan, dia begitu berani menyampaikan sesuatu yang sangat krusial kepada pengawas sekolah. Sebuah kejadian yang jarang terjadi. Saya merenung, 20 tahun menjadi guru, saya belum mempunyai keberanian seperti guru muda ini, yang begitu idealis menyampaikan kebenaran kepada pengawas.
Di pagi yang mulai beranjak siang ini. Di tepi jalan yang saya sendiri tidak tahu di mana letaknya, saya mendapatkan sesuatu yang sangat berharga bagi hidup saya, bagi perjalanan saya sebagai seorang pendidik. Sebuah cerita yang sangat inspiratif. Anda punya komentar? Saya tunggu dengan senang hati.
Apa yang membuat saya begitu "penasaran" bahkan boleh dikatakan "sangat bernafsu" dengan email tersebut? Hanya satu hal, teman saya tadi telah berbuat sangat luar biasa. Apa yang telah dilakukannya sangat inspiratif dan membutuhkan keberanian yang luar biasa. Sehingga mendorong saya untuk meminta izin kepadanya, supaya berkenan emailnya saya muat ulang pada catatan ini.
Anda penasaran?
Baiklah, dengan seizin beliau saya akan memuat ulang email tersebut, tentunya dengan sedikit perubahan supaya memenuhi kaidah kepenulisan yang tidak menyinggung perasaan seseorang. Bila anda seorang guru, saya sarankan membaca dengan teliti, resapi, dan renungkan apa yang telah dia lakukan.
Oke, tidak berpanjang kata, inilah email yang dia tulis.
Assalamu alaikum wr.wb. Alhamdulillah.....to the point ya..... Waktu itu acara pengukuhan pengawas ujian dan penulis ijazah. Setelah acara usai 2 bapak pengawas sekolah dan satu Ibu pengawas mengajak saya duduk berkumpul satu meja. Beliau ingin mengatahui lebih banyak pengalaman saya mengikuti diklat PKn SD Jenjang Lanjut di PPPTK PKn-IPS Batu, Jawa Timur yang baru saja saya ikuti. Saya bercerita apa adanya,tidak ada yang saya tutup-tutupi, saya kurangi atau saya tambah-tambahi. Setelah sekian lama berbincang-bincang beliau bertiga merasa apa yang saya ceritakan bisa menjadi bahan untuk mewujudkan harapan beliau terhadap perkembangan pendidikan di daerahku tercinta. Apalagi kinerja para guru pun sekarang diperhitungkan. Dalam bercerita saya juga menyampaikan bagaimana penilaian saya sebagai seorang peserta diklat terhadap peseta lain yang berasal dari sebuah kota (mohon maaf dengan beberapa perhitungan, nama kotanya saya hapus -eko) " Saya sangat terkesan dengan sifat dan sikap mereka dalam bergaul, menjalin persaudaraan, tidak pelit dengan ilmu yang dimiliki,bahkan dengan ikhlas membantu temannya yang membutuhkan, dan masih banyak lagi. Hal yang jarang dimiliki oleh guru di daerah kita. Kalaupun ada bisa dihitung dengan jari. Mereka merasa berat menularkan ilmu yang dimiliki, kecuali dengan embel-embel "WANI PIRO". Hal inilah barangkali yang menjadi alasan kenapa SDM guru daerah kita kurang berprestasi. Dalam bergaul pun memilih-milih. Mengukur materi dan status sosial. Jiwa sosial gurunya pun kurang. Mengajar belum tentu bisa mendidik.Terus terang ,saya sangat khawatir dengan pergaulan anak-anak dan pelajar di *********. Kurangnya disiplin dan tata krama kepada yang lebih tua,terutama orang tua. Peserta dari ***** inilah yang menjadi dan memberi inspirasi kepada saya agar bisa menjadi sosok guru yang diharapkan. Saya yakin jika guru-guru di ******** seperti sosok mereka, Insya Allah guru-guru di ******* akan mampu melahirkan anak-anak didik yang berprestasi dan berakhlak mulia. Kemudian kerja sama dari pihak Dinas terkait, juga menjadi nilai tersendiri untuk kemajuan prestasi para guru di *********, tidak ada sistim KKN, tapi berdasarkan prestasi di dalam keberhasilannya mendidik anak-anak didiknya. Maaf Bapak/Ibu Pengawas,saya bukan ingin menilai para guru di ******* tapi garis besarnya seperti itulah gambaran guru-guru kita di ********* Apalagi dengan adanya sertifikasi, mestinya kinerja para guru kan lebih bagus, bukan tambah malas. Hal itulah yang tidak terpantau oleh Pengawas. Karena mereka (para guru ) bisa membeli tenaga orang lain untuk menyelesaikan adminidtrasi mereka. Karena mereka beranggapan uang bisa menyelesaikan segalanya. Bapak/Ibu pengawas tadi juga menyampaikan hal yang sama, beliau sebetulnya sudah mengetahui tentang hal itu, katanya baru saya dan Almarhum Pak Andi yang punya keberanian menyampaikan hal ini. Apa yang saya sampaikan hampir sama dengan yang disampaikan Almarhum Pak Andi. Ya Allah,ampuni hamba,apakah yang saya lakukan ini benar............. saya hanya ingin mereka merubah perilaku agar patut dicontoh oleh anak didik mereka.
Itulah email yang yang berisi cerita dari sahabat saya. Coba anda bayangkan, dia begitu berani menyampaikan sesuatu yang sangat krusial kepada pengawas sekolah. Sebuah kejadian yang jarang terjadi. Saya merenung, 20 tahun menjadi guru, saya belum mempunyai keberanian seperti guru muda ini, yang begitu idealis menyampaikan kebenaran kepada pengawas.
Di pagi yang mulai beranjak siang ini. Di tepi jalan yang saya sendiri tidak tahu di mana letaknya, saya mendapatkan sesuatu yang sangat berharga bagi hidup saya, bagi perjalanan saya sebagai seorang pendidik. Sebuah cerita yang sangat inspiratif. Anda punya komentar? Saya tunggu dengan senang hati.
Rabu, Februari 08, 2012
REUNI I PPS DUA
Mohon kehadiran teman-teman Alumni PPS Dua pada acara REUNI I, yang akan diselenggarakan pada :
Hari, tanggal : Sabtu - Minggu, 25 - 26 Februari 2012
Pukul : 07.00 - selesai
Tempat : Rumah Ibu Dra. Tri Rahayu, Kulonprogo, DIY
Acara : Reuni I PPS Dua UAD
Demikian undangan ini, atas perhatian dan kehadiaran teman-teman disampaikan ucapan terima kasih.
Hormat saya
Eko Pramono
Kamis, Desember 01, 2011
Membagi Ilmu : Why not?
Rabu - Kamis, 30 November 2011 s.d 1 Desember 2011 ini saya kembali mengikuti Workshop TOT Metodologi Pembelajaran IPS Berbasis ICT Untuk mendukung Pengembangan Rancangan Konten Digital Materi Ajar di Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi D.I. Yogyakarta.
Bukan pelaksanaan workshopnya yang akan saya share-kan di sini. Sebab para pembaca pasti sudah mahfum dengan workshop semacam ini, pasti kegiatannya hanya seperti itu-itu saja. Namun saya akan menuliskan seperti judul di atas, Membagi Ilmu : Mengapa tidak?
Boleh dikata saya mengikuti jalannya workshop ini dengan tertatih-tatih, karena ada prasyarat pengetahuan yang belum saya kuasai. Lebih jelasnya, jauh sebelum workshop ini telah dilaksakan TOT Outhoring Tools dengan materi Lectora. Kebetulan yang dikirim adalah seorang rekan saya. Kebetulan juga, rekan tersebut belum mengimbaskan ilmunya kepada teman-temannya, termasuk saya tentunya. Karena belum menerima pengimbasan ilmu, maka dampaknya saya tidak dapat mengikuti materi workshop ini dengan baik. Dalam peribahasa Jawa, saya laksana Kaya kethek ditulup (Seperti monyet kena sumpit, hanya bengong tengok kanan, tengok kiri). Untung saja saya sedikit menguasai dasar-dasar komputer dan TIK, sehingga tidak begitu kentara kebengongan saya.
Saya tidak sedang menghakimi, apalagi menyalahkan rekan saya yang belum mengimbaskan ilmunya, namun secara naluriah apalagi menyangkut beban moral, maka semua ini terpaksa harus saya keluarkan dalam media ini. Muara dari tulisan ini, saya ingin mengatakan : Membagi ilmu kepada orang lain -apalagi ilmu tersebut memang harus diimbaskan- adalah sesuatu yang sangat mulia. Guru yang tidak mau membagi ilmunya kepada orang lain sebaiknya tidak usah menjadi guru. Sebab profesi guru adalah profesi yang menuntut kesadaran yang mutlak untuk mau membagikan ilmunya kepada orang lain.
Kalau mau berteori sedikit, bukankah ilmu yang dibagi kepada orang lain, bukannya berkurang, tetapi justru semakin bertambah banyak?
Namun, masih saja ada guru-guru yang merasa tidak perlu mengimbaskan ilmu yang diperolehkan kepada orang lain, dengan berbagai alasan yang mendasarinya. Wallohu a''lam bishowab
Jumat, Agustus 12, 2011
Sepeda baru, semangat baruku....
Kring.... kring ada sepeda...
Sepeda roda dua, kudapat dari mamam....
k'rena ku ingin olah raga ..
Nyanyian itu yang selala kusenandungkan dalam hati ketika Kamis, 11 Agustus 2011 secara mendadak istriku mengajak ke toko untuk membelikanku sebuah sepeda. Sepeda ini rencananya akan kupakai ke tempat kerja. Bukan latah ingin seperti para PNS di Kota Yogyakarta yang punya progran SEGASEGAWE (Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe) tetapi didasari oleh kesadaran pribadi bahwa akhir-akhir ini aku mudah sekali sakit. Flu dan badan lemah-lunglai adalah makanan sehari-hari bagiku. Sehari sehat, sehari sakit, demikian hari-hari yang kujalani.
Memang seorang teman pernah mengatakan bahwa umur 40 adalah "puncak kemunduran kesehatan seseorang. Pada masa ini akan mudah terserang penyakit bila daya tahan tubuh tidak dipersiapkan sebelumnya", demikian temanku berteori. Sayapun segera membenarkan kata-katanya karena memang mengalami sendiri. Akhir-akhir ini mudah sekali sakit. Jujur saya sadari, selama ini sangat malas berolah-raga. Himpitan pekerjaan dan seabreg alasan lain mendorongku menjadi manusia malas menggerakkan badan.
Maka, sebuah "skenario" kami buat, sepeda motor yang selama ini saya pergunakan untuk bekerja, dijual. Sebagai gantinya, saya harus mau bersusah - payah mengayuh sepeda onthel menuju tempat kerja. Jalan yang menanjak, kaki yang pegal-pegal atau sedang berpuasa, tidak boleh menjadi alasan untuk menggagalkan "skenario" ini. Demi kesehatan yang harus kuraih....!!!!
Singkat cerita, sepeda merah akhirnya menjadi milik kami, dan pagi tadi, Jumat, 12 Agustus 2011, saya benar-benar berangkat kerja dengan mengayuh sepeda. Jalanan yang menanjak dan riuh-rendah jalanan oleh lalu-lalang sepeda motor tidak menyurutkan niatku karena sinar mentari pagi yang menggerayangi tubuh, lebih menghangatkan semangat 45 di dada ini.
Kring.... kring..... ada sepeda.... sepeda roda dua...
Bait lagu itulah yang selalu kusenandungkan mengiringi ayunan pertamaku, meskipun tadi malam diriku tidak sempat makan sahur karena bangun kesiangan. Namun demi kesehatan, semua akan terasa enak.....
Rabu, Agustus 10, 2011
Istriku (juga) Keluar dari KPRI
Senin pagi, 8 Agustus 2011 ketika kami sibuk menjalani rutinitas pagi hari. Mandi, memberi sarapan dan melayani si kecil, mendadak saya dan istriku "kembali" membicarakan masalah Permohonan Berhenti dari Anggota KPRI XXXXX. Topik itu kembali mengusik hati kami berdua, sebab istriku telah mengirimkan Surat Permohonannya sejak bulan April 2011. Artinya telah 4 bulan berlalu belum ada tanda-tanda Pengurus KPRI menanggapi dengan serius. 4 surat telah kami layangkann untuk mengkonfirmasi apakah permohonan berhenti dikabulkan atau ditolak?
Memang beberapa bulan yang lalu, istri saya dipanggil menghadap pengurus. Namun ternyata pemanggilan itu bukan memberikan keputusan, tetapi justru hanya "merayu" supaya dia tidak keluar. Bahkan dengan membawa-bawa jargon "Koperasi adalah ladang ibadah kita!" Sebuah argumen yang tidak bisa kami terima. Bagaimana mungkin koperasi yang membungakan uangnya bisa dikatakan sebagai ladang ibadah? Bagaimana mungkin modal yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dari anggota, mendadak dalam waktu singkat disikat oleh segelintir orang, bisa dikatakan mendatangkan amal? Bagaimana mungkin sebuah gerakan yang cenderung mengambil nilai-nilai kapitalis dan mengesampingkan nilai-nilai kekeluargaan bisa dikatakan lapangan untuk mencari amal ibadah?
Sebuah argumen yang mengada-ada!!!
Maka pagi itu, kami kembali serius memperbincangkan langkah selanjutnya untuk menegakkan prinsip yang telah kami ambil : KELUAR DARI KPRI.
Bahkan dalam hati kami sudah terselip niat, apabila pengurus sengaja mengulur-ulur waktu, kami akan mencari nasehat (advis) ke Pusat Koperasi Pegawai Negeri (PKPN)atau bahkan kalau perlu ke Dinas terkait. Semua itu akan kami tempuh karena keseriusan niat kami untuk keluar.
Pagi yang semula indah, terpaksa kami isi dengan diskusi yang cukup membuat kening berkerut.
Semua pun berlalu seperti apa adanya. Mendadak, sebuah SMS masuk ke HP ku. Dari istriku... Dia mengabarkan bahwa Pengurus KPRI XXXX mengabulkan permohonannya untuk keluar sebagai anggota. Aku pun melonjak gembira menerima kabar tersebut. Apalagi disertai permintaan manjanya untuk diantar ke kantor KPRI mengambil semua tabungan/simapanannya.
Siang yang menyengat tidak kami rasakan, karena hati yang bahagia lebih kuat menghujam di dada. Kami berdua, layaknya sepasang kekasih, berangkat menyusuri jalan yang penuh sesak dengan kendaraan bermotor, meluncur untuk mengambil tabungannya di koperasi.
Tapi, kebahagiaan yang telah membahana di dada mendadak semakin surut, ketika setibanya di kantor, kami mendapat jawaban : Mohon maaf Pak, mohon maaf Bu, ternyata jumlah simpanan Ibu belum kami rekap. Mohon kesabarannya, apabila telah selesai di rekap, Ibu akan kami hubungi. Silakan tinggalkan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Simpanannya belum direkap?
Akan kami hubungi? Bahkan ketika saya mengetikkan postingan ini pun pengurus belum juga menghubungi istriku untuk menerima haknya.
Maka di hatiku, aku hanya berbisik lirih....
Ternyata KPRI ku tersayang benar-benar di ambang kebangkrutan......
Memang beberapa bulan yang lalu, istri saya dipanggil menghadap pengurus. Namun ternyata pemanggilan itu bukan memberikan keputusan, tetapi justru hanya "merayu" supaya dia tidak keluar. Bahkan dengan membawa-bawa jargon "Koperasi adalah ladang ibadah kita!" Sebuah argumen yang tidak bisa kami terima. Bagaimana mungkin koperasi yang membungakan uangnya bisa dikatakan sebagai ladang ibadah? Bagaimana mungkin modal yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dari anggota, mendadak dalam waktu singkat disikat oleh segelintir orang, bisa dikatakan mendatangkan amal? Bagaimana mungkin sebuah gerakan yang cenderung mengambil nilai-nilai kapitalis dan mengesampingkan nilai-nilai kekeluargaan bisa dikatakan lapangan untuk mencari amal ibadah?
Sebuah argumen yang mengada-ada!!!
Maka pagi itu, kami kembali serius memperbincangkan langkah selanjutnya untuk menegakkan prinsip yang telah kami ambil : KELUAR DARI KPRI.
Bahkan dalam hati kami sudah terselip niat, apabila pengurus sengaja mengulur-ulur waktu, kami akan mencari nasehat (advis) ke Pusat Koperasi Pegawai Negeri (PKPN)atau bahkan kalau perlu ke Dinas terkait. Semua itu akan kami tempuh karena keseriusan niat kami untuk keluar.
Pagi yang semula indah, terpaksa kami isi dengan diskusi yang cukup membuat kening berkerut.
Semua pun berlalu seperti apa adanya. Mendadak, sebuah SMS masuk ke HP ku. Dari istriku... Dia mengabarkan bahwa Pengurus KPRI XXXX mengabulkan permohonannya untuk keluar sebagai anggota. Aku pun melonjak gembira menerima kabar tersebut. Apalagi disertai permintaan manjanya untuk diantar ke kantor KPRI mengambil semua tabungan/simapanannya.
Siang yang menyengat tidak kami rasakan, karena hati yang bahagia lebih kuat menghujam di dada. Kami berdua, layaknya sepasang kekasih, berangkat menyusuri jalan yang penuh sesak dengan kendaraan bermotor, meluncur untuk mengambil tabungannya di koperasi.
Tapi, kebahagiaan yang telah membahana di dada mendadak semakin surut, ketika setibanya di kantor, kami mendapat jawaban : Mohon maaf Pak, mohon maaf Bu, ternyata jumlah simpanan Ibu belum kami rekap. Mohon kesabarannya, apabila telah selesai di rekap, Ibu akan kami hubungi. Silakan tinggalkan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Simpanannya belum direkap?
Akan kami hubungi? Bahkan ketika saya mengetikkan postingan ini pun pengurus belum juga menghubungi istriku untuk menerima haknya.
Maka di hatiku, aku hanya berbisik lirih....
Ternyata KPRI ku tersayang benar-benar di ambang kebangkrutan......
Sepeda motorku terjual : Dilema untuk anakku
Mas Ibnu, pada pagi ini Bapak akan memberitahukan sesuatu yang mungkin saja membuatmu kurang berkenan. Sebenarnya hal ini sudah sangat lama kami rencanakan, hanya saja kesepakatannya baru saja Bapak terima melalui SMS.
Hal yang ingin Bapak katakan adalah : Motor Suzuki SMASH kita akan dibeli oleh teman Bapak yang bernama Pak Yuwono. Kesepakatan akan menjual terjadi sejak Bulan April lalu, tapi pak Yuwono baru akan membayar nanti siang.Hal ini kami lakukan mumpung Pak Yuwono berani membayar agak mahal.
Saya yakin kabar ini pasti tidak mengenakkan hati Mas Ibnu, namun terpaksa Bapak harus memberitahukannya.
Bapak dan Ibu bukan berarti kekurangan uang, atau sangat membutuhkan uang, tetapi hanya memanfaatkan momentum saja, mumpung ada yang berani membeli motor SMASH dengan harga yang agak lumayan.
Alasan lainnya, Bapak berencana berangkat kerja dengan menggunakan sepeda. Sepeda???? Mungkin Mas Ibnu kaget mendengarnya. Ya, Bapak akan berangkat kerja dengan menggunakan sepeda dengan tujuan biar badan sehat dan menyadari supaya tidak sombong karena keluarga kita sudah ada peningkatan.
Mas Ibnu bisa belajar memahirkan naik motor dengan motornya Umi. Oke Mas Ibnu, itu yang akan Bapak katakan. semoga Mas Ibnu bisa memahaminya. Ada banyak salah kata yang kurang berkenan Bapak mohon maaf.
Itulah pesan lengkap yang saya kirimkan ke akun FB anakku, Mas Ibnu Qusyairi, yang saat ini memang berjauhan dengan kami. Dia menuntut ilmu di kota Yogyakarta, sedangkan kami di Gunungkidul.
Pesan itu perlu saya tuliskan, karena akhir-akhir ini Mas Ibnu, anak pertama kami, yang baru duduk di kelas 3 SMP, baru semangat-semangatnya belajar naik motor. Memang saya dan istri saya melarang Mas Ibnu belajar naik motor, sebelum umur 15 tahun, karena emosinya belum stabil.
Nah, pada saat liburan semester kemarin, dia memohon izin akan belajar naik sepeda motor, dan kami mengizinkannya. Luaaaar biasa, hanya belajar selama 1/2 hari, dia sudah mampu mengendarai motor. Bahkan ketika bangun dari tidur siang, Mas Ibnu bertanya pada uminya, apakah tidak sedang bermimpi bahwa sekarang sudah bisa mengendarai motor?
Betapa bahagianya dia, kami dapat melihatnya di raut wajahnya yang polos.
Mendadak siang itu, teman mengirim SMS akan membayar pembelian motor yang telah kami bicarakan 4 bulan lalu. Artinya, mau tidak mau sepeda motorku yang "kebetulan" disukai oleh Mas Ibnu akan segera beralih tangan. Padahal kami belum pernah membicarakan hal ini pada anak-anak kami. Ya Alloh, rasanya hati ini teriris-iris bila membayangkan, Mas Ibnu pulang dari asrama dan bertanya : "Pak, di mana motor SMASH-nya, saya mau latihan....."
Hal yang ingin Bapak katakan adalah : Motor Suzuki SMASH kita akan dibeli oleh teman Bapak yang bernama Pak Yuwono. Kesepakatan akan menjual terjadi sejak Bulan April lalu, tapi pak Yuwono baru akan membayar nanti siang.Hal ini kami lakukan mumpung Pak Yuwono berani membayar agak mahal.
Saya yakin kabar ini pasti tidak mengenakkan hati Mas Ibnu, namun terpaksa Bapak harus memberitahukannya.
Bapak dan Ibu bukan berarti kekurangan uang, atau sangat membutuhkan uang, tetapi hanya memanfaatkan momentum saja, mumpung ada yang berani membeli motor SMASH dengan harga yang agak lumayan.
Alasan lainnya, Bapak berencana berangkat kerja dengan menggunakan sepeda. Sepeda???? Mungkin Mas Ibnu kaget mendengarnya. Ya, Bapak akan berangkat kerja dengan menggunakan sepeda dengan tujuan biar badan sehat dan menyadari supaya tidak sombong karena keluarga kita sudah ada peningkatan.
Mas Ibnu bisa belajar memahirkan naik motor dengan motornya Umi. Oke Mas Ibnu, itu yang akan Bapak katakan. semoga Mas Ibnu bisa memahaminya. Ada banyak salah kata yang kurang berkenan Bapak mohon maaf.
Itulah pesan lengkap yang saya kirimkan ke akun FB anakku, Mas Ibnu Qusyairi, yang saat ini memang berjauhan dengan kami. Dia menuntut ilmu di kota Yogyakarta, sedangkan kami di Gunungkidul.
Pesan itu perlu saya tuliskan, karena akhir-akhir ini Mas Ibnu, anak pertama kami, yang baru duduk di kelas 3 SMP, baru semangat-semangatnya belajar naik motor. Memang saya dan istri saya melarang Mas Ibnu belajar naik motor, sebelum umur 15 tahun, karena emosinya belum stabil.
Nah, pada saat liburan semester kemarin, dia memohon izin akan belajar naik sepeda motor, dan kami mengizinkannya. Luaaaar biasa, hanya belajar selama 1/2 hari, dia sudah mampu mengendarai motor. Bahkan ketika bangun dari tidur siang, Mas Ibnu bertanya pada uminya, apakah tidak sedang bermimpi bahwa sekarang sudah bisa mengendarai motor?
Betapa bahagianya dia, kami dapat melihatnya di raut wajahnya yang polos.
Mendadak siang itu, teman mengirim SMS akan membayar pembelian motor yang telah kami bicarakan 4 bulan lalu. Artinya, mau tidak mau sepeda motorku yang "kebetulan" disukai oleh Mas Ibnu akan segera beralih tangan. Padahal kami belum pernah membicarakan hal ini pada anak-anak kami. Ya Alloh, rasanya hati ini teriris-iris bila membayangkan, Mas Ibnu pulang dari asrama dan bertanya : "Pak, di mana motor SMASH-nya, saya mau latihan....."
Kamis, Juni 16, 2011
Lomba Menulis Puisi SMP Ali Maksum
Bagi kamu yang berstatus sebagai pelajar SMP/MTs se-DIY, yang suka menulis, yang ingin karyanya dibaca banyak orang, yang ingin punya buku, OSIS SMP Ali Maksum mengajak Anda bergabung dalam lomba menulis puisi untuk pelajar SMP/MTs se-Provinsi DIY.
Ada hadiah bagi yang menang. Karya Anda juga berkesempatan diterbitkan dalam antologi puisi Cinta Bersemi di Rumah Santri. Di buku itu karyamu akan berdampingan dengan para penyair dan penulis muda nasional.
PERSYARATAN
1. Pelajar SMP/MTs di wilayah DIY, yang sudah lulus UN juga boleh
2. Karya yang dilombakan adalah karya sendiri
3. Karya tidak sedang diikutkan dalam lomba lain
4. Karya belum pernah dipublikasikan dalam media apa pun
5. Karya yang layak, akan diterbitkan dalam antologi puisi Cinta Bersemi di Rumah Santri
6. Keputusan juri mutlak
7. Bagi karya pemenang yang terbukti melanggar persyaratan, seperti keaslian karya dan pelanggaran hak cipta atau hak publikasi, kemenangan akan dibatalkan.
8. Dilarang mencantumkan nama pada karya
9. Sertai karya Kamu dengan lampiran biodata yang berisi (1) judul karya, (2) nama asli, (3) kelas dan nama sekolah, (4) hobi, (5) alamat rumah, (6) e-mail, jika punya, (7) nomor telepon, telepon sekolah juga boleh, (8) prestasi yang pernah diraih, dan (9) hal lain yang Kamu anggap perlu dicantumkan.
10. Naskah yang dikirim langsung/melalui pos (dalam bentuk hard copy/print out) dibuat rangkap tiga.
Tema umum:
“Cinta Bersemi di Rumah Santri”
Subtema:
cinta sahabat, cinta keluarga, cinta orang tua, cinta guru, cinta ilmu,
cinta makhluk, cinta lingkungan, cinta agama, cinta Rasul, dan cinta Tuhan.
HADIAH
Juara I
100.000, piagam, dibukukan dalam antologi Cinta Bersemi di Rumah Santri
Juara II
75.000, piagam, dibukukan dalam antologi Cinta Bersemi di Rumah Santri
Juara III
50.000, piagam, dibukukan dalam antologi Cinta Bersemi di Rumah Santri
Juara Harapan
dibukukan dalam antologi Cinta Bersemi di Rumah Santri
PENGIRIMAN
Melalui email lombapuisi@telkom.net
paling lambat 23 Juni 2011 pukul 24.00 WIB
Diantar/dikirim langsung ke:
SMP ALI MAKSUM
Jalan Cuwiri 230, Jogokaryan, Mantrijeron Krapyak [Utara Kandang Menjangan]
E-mail: lombapuisi@telkom.net
Website: www.smpalimaksum.sch.id
CP: 085292010992 [Sabjan Badio]
Sumber Informasi : Diambil dari Milis JIS-DIJ
Pengirim : "Sabjan Badio"
Ada hadiah bagi yang menang. Karya Anda juga berkesempatan diterbitkan dalam antologi puisi Cinta Bersemi di Rumah Santri. Di buku itu karyamu akan berdampingan dengan para penyair dan penulis muda nasional.
PERSYARATAN
1. Pelajar SMP/MTs di wilayah DIY, yang sudah lulus UN juga boleh
2. Karya yang dilombakan adalah karya sendiri
3. Karya tidak sedang diikutkan dalam lomba lain
4. Karya belum pernah dipublikasikan dalam media apa pun
5. Karya yang layak, akan diterbitkan dalam antologi puisi Cinta Bersemi di Rumah Santri
6. Keputusan juri mutlak
7. Bagi karya pemenang yang terbukti melanggar persyaratan, seperti keaslian karya dan pelanggaran hak cipta atau hak publikasi, kemenangan akan dibatalkan.
8. Dilarang mencantumkan nama pada karya
9. Sertai karya Kamu dengan lampiran biodata yang berisi (1) judul karya, (2) nama asli, (3) kelas dan nama sekolah, (4) hobi, (5) alamat rumah, (6) e-mail, jika punya, (7) nomor telepon, telepon sekolah juga boleh, (8) prestasi yang pernah diraih, dan (9) hal lain yang Kamu anggap perlu dicantumkan.
10. Naskah yang dikirim langsung/melalui pos (dalam bentuk hard copy/print out) dibuat rangkap tiga.
Tema umum:
“Cinta Bersemi di Rumah Santri”
Subtema:
cinta sahabat, cinta keluarga, cinta orang tua, cinta guru, cinta ilmu,
cinta makhluk, cinta lingkungan, cinta agama, cinta Rasul, dan cinta Tuhan.
HADIAH
Juara I
100.000, piagam, dibukukan dalam antologi Cinta Bersemi di Rumah Santri
Juara II
75.000, piagam, dibukukan dalam antologi Cinta Bersemi di Rumah Santri
Juara III
50.000, piagam, dibukukan dalam antologi Cinta Bersemi di Rumah Santri
Juara Harapan
dibukukan dalam antologi Cinta Bersemi di Rumah Santri
PENGIRIMAN
Melalui email lombapuisi@telkom.net
paling lambat 23 Juni 2011 pukul 24.00 WIB
Diantar/dikirim langsung ke:
SMP ALI MAKSUM
Jalan Cuwiri 230, Jogokaryan, Mantrijeron Krapyak [Utara Kandang Menjangan]
E-mail: lombapuisi@telkom.net
Website: www.smpalimaksum.sch.id
CP: 085292010992 [Sabjan Badio]
Sumber Informasi : Diambil dari Milis JIS-DIJ
Pengirim : "Sabjan Badio"
Rabu, April 06, 2011
Saya keluar dari KPRI...!!!
Senin, 4 April 2011 saya keluar dari Koperasi Pegawai Negeri (KPRI), karena perbedaan prinsip antara saya dan pengurus. Sebuah sejarah telah saya torehkan, karena selama ini belum ada PNS yang berani keluar dari KPRI kecuali karena mutasi tempat tugas. Semoga keputusan yang saya ambil tidak salah!
Itulah status yang saya tulis dalam jejaring sosialn Facebook pada hari Rabu, 6 April 2011. Memang pada hari Senin pagi saya kedatangan seorang pengurus KPRI tempat saya bernaung selama ini. Beliau membawa surat resmi pemberitahuan bahwa Surat Permohonan Berhenti dari Anggota KPRI XXXXXX telah disetujui oleh pengurus. Dalam surat tersebut saya juga diperintahkan untuk mengambil semua simpanan yang ada di koperasi tersebut pada hari itu juga.
Melihat kenyataan tersebut hati saya menjadi lega dan bersyukur. Setelah mengalami pergulatan batin yang cukup lama dan diskusi dengan istri saya berulangkali, setelah melihat, membaca dan merasakan kondisi KPRI XXXXXX yang tidak kondusif lagi saya ikuti, maka pada 21 Februari 2011 secara resmi saya mengirimkan surat pengunduran diri sebagai Anggota KPRI. Surat tersebut saya kirimkan tepat 2 pekan sebelum pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT). Permohonan tersebut juga saya sampaikan secara lesan pada pelaksanaan RAT, hari Sabtu, 19 Maret 2011.
Sabtu, 19 Maret 2011 sebelum pelaksanaan RAT saya sempat bertemu dengan Sekretaris dan menanyakan kejelasan surat permohonan saya. Saya dipersilakan untuk menghadap salah seorang Pengawas. Maka pada pagi hari itu, sebelum RAT dilaksanakan saya sempat berdiskusi cukup panjang dengan beliau. Gaya bahasa yang kebapakan, dewasa, matang dalam berfikir dan tidak menyalahkan yang ditampilkan oleh bapak pengawas ini, membuat saya nyaman berlama-lama bertukar-pikiran. Bahkan semua alasan yang menjadi dasar pengunduran diri saya secara jelas dan gamblang saya sampaikan kepada beliau. Dari diskusi yang kami lakukan, memang ada sedikit harapan supaya saya tidak keluar dari KPRI dengan berbagai pertimbangan. Namun keputusan saya sudah mantap, ingin keluar dari KPRI dengan segala resiko yang harus saya tanggung. Meski di akhir diskusi tersebut saya katakan kepada Pak Pengawas "Bahwa saya akan taat pada keputusan pengurus".
Pagi itu, Senin 4 April 2011 saya benar-benar lega
Itulah status yang saya tulis dalam jejaring sosialn Facebook pada hari Rabu, 6 April 2011. Memang pada hari Senin pagi saya kedatangan seorang pengurus KPRI tempat saya bernaung selama ini. Beliau membawa surat resmi pemberitahuan bahwa Surat Permohonan Berhenti dari Anggota KPRI XXXXXX telah disetujui oleh pengurus. Dalam surat tersebut saya juga diperintahkan untuk mengambil semua simpanan yang ada di koperasi tersebut pada hari itu juga.
Melihat kenyataan tersebut hati saya menjadi lega dan bersyukur. Setelah mengalami pergulatan batin yang cukup lama dan diskusi dengan istri saya berulangkali, setelah melihat, membaca dan merasakan kondisi KPRI XXXXXX yang tidak kondusif lagi saya ikuti, maka pada 21 Februari 2011 secara resmi saya mengirimkan surat pengunduran diri sebagai Anggota KPRI. Surat tersebut saya kirimkan tepat 2 pekan sebelum pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT). Permohonan tersebut juga saya sampaikan secara lesan pada pelaksanaan RAT, hari Sabtu, 19 Maret 2011.
Sabtu, 19 Maret 2011 sebelum pelaksanaan RAT saya sempat bertemu dengan Sekretaris dan menanyakan kejelasan surat permohonan saya. Saya dipersilakan untuk menghadap salah seorang Pengawas. Maka pada pagi hari itu, sebelum RAT dilaksanakan saya sempat berdiskusi cukup panjang dengan beliau. Gaya bahasa yang kebapakan, dewasa, matang dalam berfikir dan tidak menyalahkan yang ditampilkan oleh bapak pengawas ini, membuat saya nyaman berlama-lama bertukar-pikiran. Bahkan semua alasan yang menjadi dasar pengunduran diri saya secara jelas dan gamblang saya sampaikan kepada beliau. Dari diskusi yang kami lakukan, memang ada sedikit harapan supaya saya tidak keluar dari KPRI dengan berbagai pertimbangan. Namun keputusan saya sudah mantap, ingin keluar dari KPRI dengan segala resiko yang harus saya tanggung. Meski di akhir diskusi tersebut saya katakan kepada Pak Pengawas "Bahwa saya akan taat pada keputusan pengurus".
Pagi itu, Senin 4 April 2011 saya benar-benar lega
Senin, Januari 17, 2011
Aspirasi Reuni anak-anak Sdensa 2010
Mendengarkan suara anak-anak, apalagi itu mantan murid adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya, sebagai seorang guru. Sehingga ketika ada sebuah usulan dari beberapa alumni anak-anak sdensa melalui media jejaring sosial Facebook, tentang keinginan mereka mengadakan reuni, maka keinginan mereka saya tangkap sebagai sebuah sesuatu yang serius.
Memang bila dilihat dari jarak waktu mereka lulus, yang belum genap 1 (satu) tahun barangkali acara reuni adalah sesuatu yang belumpenting dilaksanakan. Namun bukan itu letak permasalahannya. Sebuah reuni, bukan ditentukan oleh lama atau sebentarnya sebuah perpisahan. Reuni sangat berhubungan dengan dengan perasaan dan kenangan. Sehingga ketika wacana mengadakan acara reuni yang diusulkan oleh anak-anak lulusan tahun 2010, saya pun menanggapi dengan serius, sangat serius malah.
Melalui media jejaring sosial facebook juga saya selalu kontak dengan beberapa anak alumni sdensa. Saya tanyakan keseriusan mereka terhadap rencana itu. Ternyata mereka juga serius menginginkan kegiatan itu dilaksanakan. Bahkan satu-dua anak selalu menanyakan, apakah rencana reuni sudah diagendakan oleh sekolah, ketika saya on-line di FB. Melihat keseriusan mereka tersebut, saya menjanjikan untuk mengusulkan aspirasi mereka pada saat rapat koordinasi Dewan Guru.
Sayang sekali, sekolah memiliki agenda yang sangat padat, sehingga aspirasi mereka belum sempat saya sampaikan dalam rapat resmi. Baru pada pagi tadi, Senin, 17 Januari 2011, saya berkempatan menyampaikan aspirasi mereka. Tetapi jawaban dari sekolah, belum bisa mengagendakan kegiatan reuni untuk anak-anak alumni 2010. Dari satu sisi saya bisa memahami alasan sekolah, namun saya tidak berhenti sampai di situ, saya menemui Bu Parni, salah seorang guru senior yang saya kenal kredibilltasnya pada anak-anak.
Dari beliaulah saya mendapat jawaban yang sangat menyejukkan : meskipun sekolah belum bisa melaksanakan acara reuni, tetapi silakan kalau anak-anak ingin membuat semacam pertemuan kangen-kangenan, saling mengingat kenangan yang pernah ada. Silakan dipersiapkan dan dibuat sendiri. Pihak sekolah hanya bisa memfasilitasi.
Jawaban yang sangat menyejukkan barangkali. Naah... sekarang tergantung pada anak-anak alumni sdensa 2010. Mampukah kalian merencanakan, memepersiapkan, dan melaksanakan sendiri pertemuan tersebut? Bila kalian mempunyai keinginan yang kuat, saya yakin kalian pasti mampu melakukannya. Oke.... saya tunggu jawaban kalian...
Memang bila dilihat dari jarak waktu mereka lulus, yang belum genap 1 (satu) tahun barangkali acara reuni adalah sesuatu yang belumpenting dilaksanakan. Namun bukan itu letak permasalahannya. Sebuah reuni, bukan ditentukan oleh lama atau sebentarnya sebuah perpisahan. Reuni sangat berhubungan dengan dengan perasaan dan kenangan. Sehingga ketika wacana mengadakan acara reuni yang diusulkan oleh anak-anak lulusan tahun 2010, saya pun menanggapi dengan serius, sangat serius malah.
Melalui media jejaring sosial facebook juga saya selalu kontak dengan beberapa anak alumni sdensa. Saya tanyakan keseriusan mereka terhadap rencana itu. Ternyata mereka juga serius menginginkan kegiatan itu dilaksanakan. Bahkan satu-dua anak selalu menanyakan, apakah rencana reuni sudah diagendakan oleh sekolah, ketika saya on-line di FB. Melihat keseriusan mereka tersebut, saya menjanjikan untuk mengusulkan aspirasi mereka pada saat rapat koordinasi Dewan Guru.
Sayang sekali, sekolah memiliki agenda yang sangat padat, sehingga aspirasi mereka belum sempat saya sampaikan dalam rapat resmi. Baru pada pagi tadi, Senin, 17 Januari 2011, saya berkempatan menyampaikan aspirasi mereka. Tetapi jawaban dari sekolah, belum bisa mengagendakan kegiatan reuni untuk anak-anak alumni 2010. Dari satu sisi saya bisa memahami alasan sekolah, namun saya tidak berhenti sampai di situ, saya menemui Bu Parni, salah seorang guru senior yang saya kenal kredibilltasnya pada anak-anak.
Dari beliaulah saya mendapat jawaban yang sangat menyejukkan : meskipun sekolah belum bisa melaksanakan acara reuni, tetapi silakan kalau anak-anak ingin membuat semacam pertemuan kangen-kangenan, saling mengingat kenangan yang pernah ada. Silakan dipersiapkan dan dibuat sendiri. Pihak sekolah hanya bisa memfasilitasi.
Jawaban yang sangat menyejukkan barangkali. Naah... sekarang tergantung pada anak-anak alumni sdensa 2010. Mampukah kalian merencanakan, memepersiapkan, dan melaksanakan sendiri pertemuan tersebut? Bila kalian mempunyai keinginan yang kuat, saya yakin kalian pasti mampu melakukannya. Oke.... saya tunggu jawaban kalian...
Jumat, Desember 03, 2010
Sebuah cerpen karya anakkku....
Senin, taggal 26 November 2010, barangkali merupakan hari yang paling berbahagia bagi diriku. Mengapa, karena pada hari itu aku melihat anak pertamaku, Miftahurrohmat Ibnu Qusyairi mampu menyelesaikan karyanya yang pertama. Meski karya yang baru pertama kali dia hasilkan, namun sudah cukup bagus untuk ukuran seusianya.
Karya itu berjudul Hikmah, sebuah cerita pendek. Memang Cerpen Hikmah, dibuat dalam rangka mengikuti Lomba Penulisan Cerita Remaja Islami (Ceris) SMP Tingkat Nasional tahun 2010, yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.
Pada awalnya, Mas Ibnu hampir saja menyerah, karena batas minimal halaman (minimal 35 halaman) hampir saja tidak dapat terpenuhi. Padahal tenggat-waktunya sudah sangat mepet. Melihat kondisi seperti itu, hampir saja saya "tergoda" oleh bisikan jahat, untuk menyelesaikan bagian yang belum sempurna. Namun alhamdulillah, saya masih sadar bahwa itu bukanlah jalan yang terbaik bagi saya, dan bagi Mas Ibnu. Maka hanya sebuah ucapan mantap yang bisa saya berikan "Mas, selesaikan saja. Mas Ibnu pasti bisa. Nanti bapak bantu ngetik dan ngeditnya saja".
Dan benar, Mas Ibnu lantas bersemangat menyelesaikan cerpennya. Seperti janji yang telah saya ucapkan, maka pengetikan dan editing pun saya lakukan. Benar-benar hanya mengetik dan mengedit, tidak mengubah jalan ceritanya. Selama pengetikan pun, saya sengaja tidak membaca cerpen tersebut secara lengkap, biara ada "semangat" pada diri saya untuk emngetahui ending ceritanya. Sungguh, ketika cerpennya sudah jadi dalam ujud buku jilidan, saya dan istri benar-benar terpana melihat hasil karya anakku yang pertama. Sebuah cerpen yang panjang dengan 46 halaman dan alur cerita yang sangat runtut dan enak dibaca.
Dalam hati kecil saya, semoga saat pengumuman nanti, tanggal 10 Desember 2010, karya anakku dapat lolos sebagai finalis. Tapi seandainya tidak lolospun saya sudah cukup bangga dengan Mas Ibnu yang telah mampu menghasilkan karyanya yang begitu bagus.
Mas Ibnu, selamat untukmu, berkaryalah terus, dan hasilkan tulisan-tulisanmu yang bermutu di kemudian hari .....
Karya itu berjudul Hikmah, sebuah cerita pendek. Memang Cerpen Hikmah, dibuat dalam rangka mengikuti Lomba Penulisan Cerita Remaja Islami (Ceris) SMP Tingkat Nasional tahun 2010, yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.
Pada awalnya, Mas Ibnu hampir saja menyerah, karena batas minimal halaman (minimal 35 halaman) hampir saja tidak dapat terpenuhi. Padahal tenggat-waktunya sudah sangat mepet. Melihat kondisi seperti itu, hampir saja saya "tergoda" oleh bisikan jahat, untuk menyelesaikan bagian yang belum sempurna. Namun alhamdulillah, saya masih sadar bahwa itu bukanlah jalan yang terbaik bagi saya, dan bagi Mas Ibnu. Maka hanya sebuah ucapan mantap yang bisa saya berikan "Mas, selesaikan saja. Mas Ibnu pasti bisa. Nanti bapak bantu ngetik dan ngeditnya saja".
Dan benar, Mas Ibnu lantas bersemangat menyelesaikan cerpennya. Seperti janji yang telah saya ucapkan, maka pengetikan dan editing pun saya lakukan. Benar-benar hanya mengetik dan mengedit, tidak mengubah jalan ceritanya. Selama pengetikan pun, saya sengaja tidak membaca cerpen tersebut secara lengkap, biara ada "semangat" pada diri saya untuk emngetahui ending ceritanya. Sungguh, ketika cerpennya sudah jadi dalam ujud buku jilidan, saya dan istri benar-benar terpana melihat hasil karya anakku yang pertama. Sebuah cerpen yang panjang dengan 46 halaman dan alur cerita yang sangat runtut dan enak dibaca.
Dalam hati kecil saya, semoga saat pengumuman nanti, tanggal 10 Desember 2010, karya anakku dapat lolos sebagai finalis. Tapi seandainya tidak lolospun saya sudah cukup bangga dengan Mas Ibnu yang telah mampu menghasilkan karyanya yang begitu bagus.
Mas Ibnu, selamat untukmu, berkaryalah terus, dan hasilkan tulisan-tulisanmu yang bermutu di kemudian hari .....
Sabtu, Oktober 02, 2010
Maafkan aku anakku : Ayah terlalu sibuk (Alasan sekunder mengapa aku mundur dari Pinkoncab Jamda 2010)
“KADANG AKU MERASA INGIN BERMAIN PS2 DENGAN AYAH. WALAU HANYA 1 JAM, TETAPI AYAH IKUT BERMAIN.
TAPI AKU TAHU AYAH SIBUK, DAN AKU SEDANG SAKIT,
JADI TIDAK BOLEH BANYAK BERGERAK.
SEPERTINYA KEINGINANKU INI TIDAK AKAN TERKABUL.
ZAIM
Amplop putih itu tergeletak di tempat tidur, dengan spontan aku buka, ternyata isinya sebuah surat pendek dari anakku, ZAIM. Sejenak aku terpana membaca tulisan jujurnya. Sebuah ungkapan hati seorang anak kepada ayahnya. Aku hanya mampu terpaku di bibir tempat tidur sambil menatap tulisannya.
Sejurus mataku menerawang jauh, seminggu yang lalu, di saat aku sibuk menyiapkan Jambore Daerah sebagai Pinkoncab, Penyusunan KTSP SDN Wonosari I dan tugas-tugas Dinas lainnya, anakku Zaim, tergeletak di tempat tidur, sakit. Panas badannya yang tak kunjung turun membuat kami was-was, jangan-jangan terkenan DB atau penyakit serius lainnya. Kami berdua bergantian menjaganya, setalah mendapat pesan dari dokter, apabila sampai 3 hari panasnya tidak turun harap di bawa ke Rumah Sakit, untuk cek darah dan pemeriksaan lebih lanjut.
Ya, di saat anakku terbaring sakit itulah, aku "memaksakan" diri menyelesaikan tugas sebagai Pinkoncab, meski tidak optimal karena tugas dinas di sekolah juga menumpuk. Sebenarnya aku merasa berdosa juga, sebagai Pinkoncab namun jarang ke Kwarcab, dan hanya memerecayakan ketugasan sebagai Pinkon kepada Kak Sulis. Namun bagaimana lagi, sebuah kondisi yang sangat dilematis yang harus kuambil.
Hingga suatu pagi, dengan kondisi badan yang sangat panas Mas Zaim meminta selembar kertas, katanya mau menulis sesuatu -sebuah hobi yang dia miliki, selalu menuangkan seseuatu yang menarik hatinya di lembar kertas atau buku diary-. Setelah selesai menulis, dia meminta sebuah amplop. Aku hanya melayani semua permintaannya. Ternyata yang dia tulis adalah : SEBUAH SURAT untuk aku, ayahnya. Sebuah keinginan terpendam dari seorang anak. Bukan main PSnya yang dia butuhkan, tetapi kedekatan seorang ayah kepada anaknya. Meski dia hanya meminta 1 jam, ya 1 jam saja! Dan surat tersebut baru kutemukan, 1 Oktober 2010, sehari setelah aku menyatakan mundur dari Pinkoncab. Barangkali keputusanku untuk mundur telah dituntun oleh Alloh SWT. Aku masih terpaku memandangi surat dari anakku di bibir tempat tidur. Tiada terasa ada setitik air bening meleleh di mataku.
Aku hanya bisa berkata lirih :
"Maafkan aku anakku, ayah terlalu sibuk mengurusi urusan orang lain, sampai melupakan dirimu.
Ayah berjanji akan menemanimu main PS, dan lebih memperhatikan dirimu. Maafkan aku anakku ......"
Label:
anak,
Jambore Daerah 2010,
Jamda,
Jamda 2010,
Jamda DIY 2010,
kasih sayang,
mundur,
orang tua,
perhatian
Kamis, September 30, 2010
Mundur : Pilihan yang terbaik....

Tepat pukul 09.45 saya menuliskan Surat Permohonan Pengunduran Diri sebagai Pimpinan Kontingen Cabang (Pinkoncab) Kwartir Cabang 1203 Gunungkidul pada pelaksanaan Jambore Daerah 2010. Setelah selesai saya meluncur ke Kantor Kwarcab Gunungkidul untuk menyampaikan surat tersebut kepada Ka Kwarcab, melalui Sekretaris Kwarcab. Sebenarnya ada rasa miris dalam hati ketika surat itu saya serahkan, namun mungkin itulah jalan yang terbaik yang harus saya tempuh : Mengundurkan diri.
Alasan pengunduran diri secara lugas saya tulis, dikarenakan kesibukan dinas yang tidak bisa ditinggalkan. . Memang itulah alasan yang mendasari saya memilih mengundurkan diri. Ketika H-2, saya belum juga menerima Surat Perintah atau Surat Penunjukan sebagai Pinkoncab, saya berada dalam situasi dilematis. Terus melaksanakan tugas sebagai Pinkoncab dengan meninggalkan tugas mengajar, dengan resiko apabila ada pemeriksaan dari instansi terkait, saya harus berani bertanggungjawab. Ataukah memilih tugas dinas, toh saya belum ditugaskan secara resmi oleh Kwarcab yang ditandai dengan adanya hitam di atas putih.
"Pramuka koq sangat formalitas!", mungkin para pembaca membaca saya adalah seorang yang menjunjung formalitas daripada suksesnya sebuah kegiatan. Memang saya akui, ada benarnya bahwa kejadian pengunduran diri ini dipicu oleh hal yang sangat sepele : Formalitas semata. Namun, kalau kita melihat bahwa Pemkab Gunungkidul saat ini baru melaksanakan gebrakan positif yang harus mendapat dukungan seluruh aparatur pemerintah, yaitu penegakan disiplin para pegawai, maka selembar kertas yang bernama Surat Keputusan (SK) atau Surat Tugas menjadi hal yang sangat diperlukan. Maka ketika Kwarcab tidak mampu memberi saya selembar kertas tersebut, padahal saya sudah memintanya jauh-jauh hari dan saya ulangi berulangkali, maka jalan keluarnya adalah : MUNDUR.
Rabu, September 01, 2010
Selamat datang di Jamda 2010 di Gunungkidul
Selamat Datang, Jambore Daerah Tahun 2010!
Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta sebentar lagi akan menyelenggarakan kegiatan Jambore Daerah tahun 2010 yaitu pada tanggal 2 sampai dengan 6 Oktober 2010. Bertindak sebagai tuan rumah kegiatan adalah Kwartir Cabang Gunungkidul yang mengambil lokasi perkemahan di Medan Latihan Dodiklatpur TNI AD Rindam IV Diponegoro, Desa Karangduwet, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul. Jaraknya kurang lebih 44 km dari pusat Kota Yogyakarta.
Jambore Daerah 2010 ini akan diikuti oleh lebih dari 2.200 orang Pramuka Penggalang dari berbagai Gugusdepan di Provinsi daerah Istimewa Yogyakarta. Ribuan peserta tersebut nantinya akan mengikuti berbagai kegiatan, diantaranya adalah caving, mountaineering, tracking, diskusi Kepramukaan, pentas seni, dan masih banyak lagi lainnya.
Mari, bersama-sama kita sukseskan Jambore daerah tahun 2010 ini.
“BERSAHABAT, CINTA ALAM DAN BERBUDAYA!”
Untuk rute dan kelengkapan lainnya dapat dilihat di http:///r14ng.wordpress.com
Sumber tulisan : di http:///r14ng.wordpress.com
Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta sebentar lagi akan menyelenggarakan kegiatan Jambore Daerah tahun 2010 yaitu pada tanggal 2 sampai dengan 6 Oktober 2010. Bertindak sebagai tuan rumah kegiatan adalah Kwartir Cabang Gunungkidul yang mengambil lokasi perkemahan di Medan Latihan Dodiklatpur TNI AD Rindam IV Diponegoro, Desa Karangduwet, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul. Jaraknya kurang lebih 44 km dari pusat Kota Yogyakarta.
Jambore Daerah 2010 ini akan diikuti oleh lebih dari 2.200 orang Pramuka Penggalang dari berbagai Gugusdepan di Provinsi daerah Istimewa Yogyakarta. Ribuan peserta tersebut nantinya akan mengikuti berbagai kegiatan, diantaranya adalah caving, mountaineering, tracking, diskusi Kepramukaan, pentas seni, dan masih banyak lagi lainnya.
Mari, bersama-sama kita sukseskan Jambore daerah tahun 2010 ini.
“BERSAHABAT, CINTA ALAM DAN BERBUDAYA!”
Untuk rute dan kelengkapan lainnya dapat dilihat di http:///r14ng.wordpress.com
Sumber tulisan : di http:///r14ng.wordpress.com
Sabtu, Juni 12, 2010
Ketika kami membangun Istana Cinta
Hari Ulang Tahunku di tahun 2010 ini benar-benar sangat istimewa. Betapa tidak? Setelah mendapat kejutan dari istri dan anak-anakku tercinta, pada hari itu tepatnya pukul 07.55 cangkulan pertama terayun sebagai pertanda dimulainya menggali tanah untuk pondasi. Ya! Hari itu kami memulai (lagi) pembangunan istana cinta kami. Setelah "bertahan" hidup dalam rumah bilik yang sangat kecil (ukuran 3 x 13) yang terbagi menjadi 3 ruangan, Insya Alloh kami akan segera memiliki rumah "yang sedikit layak" untuk kami tempati.
Saya bersyukur, dengan anugerah yang sangat besar yang diberikan Alloh kepadaku. Anugerah berupa Istri yang setia, tidak terlalu menuntut, dan pandai mengurus rumah tangga, serta anugerah anak-anak yang berhakti pada orang tua. Selama kurang-lebih 5 tahun kami hidup "berdesak-desakkan" di dalam rumah yang sangat kecil, saya belum pernah mendengar keluhan apalagi tuntutan dari istriku untuk membuatkan rumah yang layak. Sungguh, rumah yang kami diami selama 5 tahun itu, tidak layak disebut sebagai rumah. Tidak layak disebut sebagai tempat tinggal seorang guru. Selama 5 tahun tersebut kami hidup di rumah yang sangat kecil, kumuh, dan penuh sesak. Kamar tidur yang kami gunakan sekaligus sebagai trmpat menyimpan buku-buku dan kertas ang berserakan. Bahkan tempat tidur anakku, Ibnu yang kebetulan sudah asrama di Yogya, kami gunakan untuk menumpuk kertas dan diktat kuliah saat sertifikasi. Dengan kondisi seperti itu maka nyaris pemandangan yang kami hadapi setiap hari adalah tumpukan buku dan diktat dan kertas yang berserakan ke sana-kemari. Bukannya kami malas membersihkan, namun memang tidak ada tempat yang memadai untuk meletakkan buku-buku tersebut. Bila kondisi perasaan baru fit, maka kami nyaman-nyaman saja menghadapi semua itu, namun apabila perasaan baru "bete" maka kondisi rumah tersebut semakin "kadang" membuat kami semakin uring-uringan.
Bila malam hari menjelang, kadang kami berdua membayangkan, "Kapan kami memiliki rumah yang sedikit layak untuk ditempati?" Harapan itu kadang langsung tenggelam manakala kami melihat kebutuhan pendidikan yang harus kami persiapkan untuk anak-anak, karena memang kebutuhan yang paling penting dan mendesak adalah memberikan fasilitas bagi anak-anak kami untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Sehingga meskipun kami memiliki keinginan untuk segera memiliki sebuah rumah terpaksa kami pendam di dalam hati.
Namun, alhamdulillah, kami tetap bersyukur, bersyukur, dan bersyukur pada Alloh atas karunianya telah memberi kami sebuah rumah (meski sangat kecil) yang dapat kami jadikan tempat berteduh dari hujan dan panas, tempat kami saling mencurahkan rasa kasih-sayang di antara anggota keluarga, dan tempat kami bersujud dan beribadah pada Alloh.
Maka, sungguh hatiku amat berbahagia ketika cangkul mulai mengayun, menandai mulai dibangunnya rumah kami : ISTANA YANG TELAH LAMA KAMI NANTIKAN KEHADIRANNYA.
Kamis, Mei 27, 2010
Hari yang bahagia.......
Hari ini adalah hari yang sangat bahagia bagi diriku, yah... Kamis, 27 Mei 2010 adalah hari Ulang Tahunku yang ke-39, mengapa merupakan hari yang bahagia? Paling tidak ada 2 alasan :1. Hari ini merupakan hari tepat aku dilahirkan, baik hari maupun pasarannya (istilah orang Jawa). Bahkan istriku menyebutnya ini Hari Ulang Tahun Akbar.
2. Ketika usai sholat subuh, aku mendapat kejutan ucapan selamat dari istriku tercinta dan anak-anakku, bahkan aku merasa merinding dan dada ini dipenuhi rasa bahagia yang tiada tara.
Kebahagian itu semakin bertambah ketika aku membuka email, sebuah slide ucapan selamat ULTAH yang cantik dari SAHABAT NESTLE. Kalimat yang tersusun sangat indah dan mampu memberi nspirasi bagi diri ini ....
Perjalanan ini terasa begitu menyenangkan
karena ada sahabat yang mendampingi
Sahabat yang selalu mengulurkan tangan
saat kita membutuhkan dukungan
Memercikkan inspirasi
serta memompa semangat
saat jiwa kita lelah
Itulah slide ucapan Ulang Tahun dari SAHABAT NESTLE, sebuah e-magazine yang memang telah lama aku berlangganan. Meski saya tahu, bahwa slide itu adalah slide massal yang mungkin juga dikirmkan kepada orang lain, namun ketika membacanya aku merasa sangat tersanjung dan surprise...
Betul-betul hari yang sangat membahagiakan...
Kamis, April 22, 2010
Indahnya Kebersamaan
Pertengahan April 2010 barangkali menjadi hari-hari yang sangat menyibukkan, melelahan dan menguras tenaga istriku. Betapa tidak? Pada hari-hari itu istriku tercinta harus menyusun Portofolio Sertifikasi Guru. Sebuah pekerjaan yang sudah menjadi "rahasia umum" di kalangan guru, sebagai pekerjaan yang membutuhkan stamina yang prima dan daya juang yang tebal.
Belum lagi "kesalahan teknis" kecil yang membuat dindaku sayang agak sedikit "patah arang". Ketika tahun 2008, untuk persiapan dan jaga-jaga apabila dipanggil sebagai peserta Sertifikasi jalur Portofolio, istriku telah memfotocopy beberapa lembar Sertifikat Diklat dan Seminar. Entah kenapa, semua berkas Sertifikat Diklat dan Seminar yang telah difotocopy itu hilang tiada tahu rimbanya. Padahal nilai Selembar Sertifikat Diklat agak lumayan untuk tambah-tambah nilai. Inilah yang saya sebut kesalahan kecil.
Kesalahan yang membuat Istriku "agak ogah-ogahan" menyusun Portofolio karena dalam pikirannya "Pasti aku tidak akan lulus". Sejak hari pertama penyusunan, sebenarnya saya sudah merasakan ketidak beresan ini. Namun dengan sedikit dorongan dan motivasi, akhirnya istriku mau menyusun Portofolio dengan penuh semangat. Bahkan sangat semangat! Tidur pukul 02.00 dinihari adalah hal yang sangat sering dia lakukan untuk mengear target pengumpulan Portofolio.
Alhamdulillah, mungkin Alloh merasa kasihan melihat hamba-NYA begitu keras berusaha, sehingga berkenan memberikan karunia dan anugerah-NYA. Tepat hari ke-3 penyusunan Portofolio, berkas yang "hilang" tiba-tiba ketemu. Hal itu membuat istriku semakin bersemangat "memelototi" layar Laptop. Saya sampai terheran-heran dengan semangat yang dia punyai. Kadang, sambil duduk terkantuk-kantuk di kursi, saya pandangi wajah wanita yang telah menghujamkan cintanya padaku. Seakan-akan di wajahnya tiada tergores sedikitpun rasa lelah. Jemarinya yang mungil, terus saja menari-nari di papan tuts keyboard Laptop. Sesekali teh panas sengaja kuhidangkan untuk pengusir rasa kantuk. Atau kadang kupijit mesra tubuhnya yang tetap tegar menghadapi meja kecil, di samping hamparan kertas-kertas fotocopian Sertifikat/piagam.
Sungguh, saat-saat seperti itu saya rasakan sebuah kedekatan yang tiada tara. Memang benar kata para ahli, bahwa "Cinta idak selamanya harus dibangun dengan sentuhan fisik, perhatian kecil yang kita berikan kadangkala lebih besar harganya". Dengan kesadaran itulah, tanpa sepengetahuan dirinya, ketika dia telah terlelap dalam tidur lelahnya, kupandangi wajah teduhnya, sambil kupanjatkan doa lirih .....
"Ya Alloh, istriku saat ini sedang berjuang menggapai nasibnya yang lebih baik, berilah dia kekuatan, sehatkan badannya dan lancarkanlah urusannya, dan dekatkan cinta kami sedekat cinta Kekasih-MU, Nabiyyulloh Muhammad dengan Bunda Siti Khatijah. Ya Alloh, sungguh aku bukanlah suami yang baik bagi dirinya, namun dengan doa kecil ini, jadikan keluarga kami keluarga yang terbaik bagi putra-putri kami....."
Belum lagi "kesalahan teknis" kecil yang membuat dindaku sayang agak sedikit "patah arang". Ketika tahun 2008, untuk persiapan dan jaga-jaga apabila dipanggil sebagai peserta Sertifikasi jalur Portofolio, istriku telah memfotocopy beberapa lembar Sertifikat Diklat dan Seminar. Entah kenapa, semua berkas Sertifikat Diklat dan Seminar yang telah difotocopy itu hilang tiada tahu rimbanya. Padahal nilai Selembar Sertifikat Diklat agak lumayan untuk tambah-tambah nilai. Inilah yang saya sebut kesalahan kecil.
Kesalahan yang membuat Istriku "agak ogah-ogahan" menyusun Portofolio karena dalam pikirannya "Pasti aku tidak akan lulus". Sejak hari pertama penyusunan, sebenarnya saya sudah merasakan ketidak beresan ini. Namun dengan sedikit dorongan dan motivasi, akhirnya istriku mau menyusun Portofolio dengan penuh semangat. Bahkan sangat semangat! Tidur pukul 02.00 dinihari adalah hal yang sangat sering dia lakukan untuk mengear target pengumpulan Portofolio.
Alhamdulillah, mungkin Alloh merasa kasihan melihat hamba-NYA begitu keras berusaha, sehingga berkenan memberikan karunia dan anugerah-NYA. Tepat hari ke-3 penyusunan Portofolio, berkas yang "hilang" tiba-tiba ketemu. Hal itu membuat istriku semakin bersemangat "memelototi" layar Laptop. Saya sampai terheran-heran dengan semangat yang dia punyai. Kadang, sambil duduk terkantuk-kantuk di kursi, saya pandangi wajah wanita yang telah menghujamkan cintanya padaku. Seakan-akan di wajahnya tiada tergores sedikitpun rasa lelah. Jemarinya yang mungil, terus saja menari-nari di papan tuts keyboard Laptop. Sesekali teh panas sengaja kuhidangkan untuk pengusir rasa kantuk. Atau kadang kupijit mesra tubuhnya yang tetap tegar menghadapi meja kecil, di samping hamparan kertas-kertas fotocopian Sertifikat/piagam.
Sungguh, saat-saat seperti itu saya rasakan sebuah kedekatan yang tiada tara. Memang benar kata para ahli, bahwa "Cinta idak selamanya harus dibangun dengan sentuhan fisik, perhatian kecil yang kita berikan kadangkala lebih besar harganya". Dengan kesadaran itulah, tanpa sepengetahuan dirinya, ketika dia telah terlelap dalam tidur lelahnya, kupandangi wajah teduhnya, sambil kupanjatkan doa lirih .....
"Ya Alloh, istriku saat ini sedang berjuang menggapai nasibnya yang lebih baik, berilah dia kekuatan, sehatkan badannya dan lancarkanlah urusannya, dan dekatkan cinta kami sedekat cinta Kekasih-MU, Nabiyyulloh Muhammad dengan Bunda Siti Khatijah. Ya Alloh, sungguh aku bukanlah suami yang baik bagi dirinya, namun dengan doa kecil ini, jadikan keluarga kami keluarga yang terbaik bagi putra-putri kami....."
Kamis, April 08, 2010
Menanti dengan harap-harap cemas turunnya Tunjangan Profesi
Bulan Maret telah berlalu, dan pintu bulan April 2010 telah terbuka menyambut Sang Mentari. Bulan Maret beberapa bulan yang lalu merupakan bulan yang sangat dinanti-nantikan oleh Kelompok Pengusul Tunjangan Sertifikasi Kolektif. Menurut informasi pada yang saya terma pada bulan Januari 2010, kemungkinan SK dari Dirjen akan selesai Bulan Maret 2010. Maka dari itu bulan Maret menjadi bulan yang sangat ditunggu-tunggu. Namun sampai sekarang ternyata belum ada beritanya. Dilandasi dengan rasa kegelisahan dan didorong oleh pertanyaan teman-teman, maka pada hari Kamis, 8 April 2010 saya melalukan Percakapan udara (chatting) dengan salah satu Pegawai Ditpropen, Direktorat PMPTK dan inilah hasil chatting tersebut.
Chatting-ku dengan Ibu Yuyun, Ditpropen PMPTK
Kementrian Pendidikan Nasional
Pada hari Kamis, 8 April 2010 pukul 12.30 – 12.47
un_pramono : Selamat siang Bu Yuyun
maniezs_maniezs : siang pak
un_pramono : Bolehkah saya bertanya. Saya koordinator Pengusulan/Pemberkasan Sertifikasi Jalur Pendidikan dari Univ. Sanata Yogyakarta, yg lulus tahun 2009.
un_pramono : Berkas Usulan telah kami kirimkan ke Ditpropen PMPTK tgl 21 Desember 2009. Kira2 SKnya jadinya kapan ya Bu?
maniezs_maniezs : yg jalur pendidik sampai sekarang msh dientry pak...yg agak memakan wkt adl pembuatan NRG nya..dan kita tidak boleh menginformasikan apapun mengenai kpn akan kirim kapan cair atau apapun..krn dari kementerian keuangannya masih belum ada informasi
maniezs_maniezs : jadi jika kita menginformasikan sk sudah jadi misalnya..maka guru2 sudah pasti akan resah
maniezs_maniezs : kita juga disni sedang menunggu instruksi pak
Pesan terakhir diterima pada 4/8/2010 pukul 12:40 PM
un_pramono : Terima kasih Bu Yuyun atas penjelasannya, kami jg dpt memahami. Kami pun jg yakin Ditpropen PMPTK telah bekerja dgn sangat keras memperjuangkan kami. Terima kasih sekali lagi Bu. Saya undur diri dulu. Selamat siang.
Chatting-ku dengan Ibu Yuyun, Ditpropen PMPTK
Kementrian Pendidikan Nasional
Pada hari Kamis, 8 April 2010 pukul 12.30 – 12.47
un_pramono : Selamat siang Bu Yuyun
maniezs_maniezs : siang pak
un_pramono : Bolehkah saya bertanya. Saya koordinator Pengusulan/Pemberkasan Sertifikasi Jalur Pendidikan dari Univ. Sanata Yogyakarta, yg lulus tahun 2009.
un_pramono : Berkas Usulan telah kami kirimkan ke Ditpropen PMPTK tgl 21 Desember 2009. Kira2 SKnya jadinya kapan ya Bu?
maniezs_maniezs : yg jalur pendidik sampai sekarang msh dientry pak...yg agak memakan wkt adl pembuatan NRG nya..dan kita tidak boleh menginformasikan apapun mengenai kpn akan kirim kapan cair atau apapun..krn dari kementerian keuangannya masih belum ada informasi
maniezs_maniezs : jadi jika kita menginformasikan sk sudah jadi misalnya..maka guru2 sudah pasti akan resah
maniezs_maniezs : kita juga disni sedang menunggu instruksi pak
Pesan terakhir diterima pada 4/8/2010 pukul 12:40 PM
un_pramono : Terima kasih Bu Yuyun atas penjelasannya, kami jg dpt memahami. Kami pun jg yakin Ditpropen PMPTK telah bekerja dgn sangat keras memperjuangkan kami. Terima kasih sekali lagi Bu. Saya undur diri dulu. Selamat siang.
Minggu, Maret 07, 2010
Penerimaan Siswa Baru SD N Wonosari 1 Tahun Pelajaran 2010/2011
A PENDAFTARAN CALON SISWA BARU
1. Pendaftaran siswa baru dilaksanakan pada tanggal 17 s.d 20 Maret 2010. Jam 08.00 s.d 12.00.
2. Persyaratan pendaftaran siswa baru :
a. Mengisi Formulir Pendaftaran yang telah disediakan
b. Mengisi surat pernyatan kesanggupan orang tua membayar pungutan untuk menutupi kekurangan biaya atas standar pembiayaan pendidikan kecuali bagi peserta didik dari orang tua tidak mampu, diganti dengan Surat Keterangan tidak mampu dari Pemerintah Desa.
c. Foto copy akte kelahiran 2 lembar.
d. Foto copy sertifikat prestasi lomba atau penghargaan lainya (bila ada), masing- masing 2 lembar.
e. Foto hitam putih ukuran 3 x 4 sebanyak 3 lembar.
f. Foto copy rapor TK 2 lembar.
g. Cek data kesehatan siswa
h. Membayar biaya tes Rp 75.000 ( Tujuh puluh lima ribu rupiah )
B TES / SELEKSI :
1. Tes seleksi penerimaan siswa baru meliputi Tes Intelegensi, minat dan bakat , Tes Potensi akademis.
2. Jadwal pelaksanaan tes sebagai berikut :
NO Hari, TGL MATERI TES WAKTU
1 26 Maret 2010. Tes Potensi akademik 08.00-09.30
2 27 Maret 2010 Tes Intlegensi , Bakat dan Minat 08.00 s.d Selesai.
Jadwal dapat berubah dengan pemberitahuan 3 hari sebelumnya.
3. Selain tes tersebut juga dilakukan wawancara dengan calon orang tua siswa terkait dengan pelaksanaan pelaksanaan Program RSBI.
C. PENGUMUMAN DAN PENDAFTARAN KEMBALI.
1. Pengumuman penerimaan siswa baru pada tanggal 5 April 2010.
2. Pendaftaran kembali siswa baru yang dinyatakan diterima tanggal 6 dan 7 April 2010
3. Syarat pendaftaran kembali siswa yang diterima sebagai berikut :
a. Mengisi surat pernyataan pendidikan agama yang dianut siswa.
b. Menanda-tangani persetujuan tata tertib siswa.
4. Jumlah siswa yang diterima 84 siswa atau 3 rombonmgan belajar.
D. LAIN- LAIN
1. Siswa yang dinyatakan diterima sampai batas akhir tidak mendaftar kembali dinyatakan mengundurkan diri.
2. Hal- hal lain yang belum diatur dalam ketentuan ini akan diatur kemudian sesuai dengan kebutuhan.
*Untuk info lebih lengkap hubungi:
Panitia PSB SD N Wonosari 1 cs: (0274) 391746, atau website : http://sdn1-wonosari.sch.id
1. Pendaftaran siswa baru dilaksanakan pada tanggal 17 s.d 20 Maret 2010. Jam 08.00 s.d 12.00.
2. Persyaratan pendaftaran siswa baru :
a. Mengisi Formulir Pendaftaran yang telah disediakan
b. Mengisi surat pernyatan kesanggupan orang tua membayar pungutan untuk menutupi kekurangan biaya atas standar pembiayaan pendidikan kecuali bagi peserta didik dari orang tua tidak mampu, diganti dengan Surat Keterangan tidak mampu dari Pemerintah Desa.
c. Foto copy akte kelahiran 2 lembar.
d. Foto copy sertifikat prestasi lomba atau penghargaan lainya (bila ada), masing- masing 2 lembar.
e. Foto hitam putih ukuran 3 x 4 sebanyak 3 lembar.
f. Foto copy rapor TK 2 lembar.
g. Cek data kesehatan siswa
h. Membayar biaya tes Rp 75.000 ( Tujuh puluh lima ribu rupiah )
B TES / SELEKSI :
1. Tes seleksi penerimaan siswa baru meliputi Tes Intelegensi, minat dan bakat , Tes Potensi akademis.
2. Jadwal pelaksanaan tes sebagai berikut :
NO Hari, TGL MATERI TES WAKTU
1 26 Maret 2010. Tes Potensi akademik 08.00-09.30
2 27 Maret 2010 Tes Intlegensi , Bakat dan Minat 08.00 s.d Selesai.
Jadwal dapat berubah dengan pemberitahuan 3 hari sebelumnya.
3. Selain tes tersebut juga dilakukan wawancara dengan calon orang tua siswa terkait dengan pelaksanaan pelaksanaan Program RSBI.
C. PENGUMUMAN DAN PENDAFTARAN KEMBALI.
1. Pengumuman penerimaan siswa baru pada tanggal 5 April 2010.
2. Pendaftaran kembali siswa baru yang dinyatakan diterima tanggal 6 dan 7 April 2010
3. Syarat pendaftaran kembali siswa yang diterima sebagai berikut :
a. Mengisi surat pernyataan pendidikan agama yang dianut siswa.
b. Menanda-tangani persetujuan tata tertib siswa.
4. Jumlah siswa yang diterima 84 siswa atau 3 rombonmgan belajar.
D. LAIN- LAIN
1. Siswa yang dinyatakan diterima sampai batas akhir tidak mendaftar kembali dinyatakan mengundurkan diri.
2. Hal- hal lain yang belum diatur dalam ketentuan ini akan diatur kemudian sesuai dengan kebutuhan.
*Untuk info lebih lengkap hubungi:
Panitia PSB SD N Wonosari 1 cs: (0274) 391746, atau website : http://sdn1-wonosari.sch.id
Label:
penerimaan,
PSB,
RSBI,
SBI,
siswa
Senin, Maret 01, 2010
Saat-saat Indah Bersama ....
Hari Sabtu - Minggu, 27-28 Februari 2010 barangkali menjadi saat yang paling indah bagi kami sekeluarga. Betapa tidak? Hari itu, kami sekeluarga dapat berkumpul dalam suasana yang full, total dan menyenangkan.
Hari itu kami larut bersama dalam kebahagiaan, keceriaan dan hangat sekaligus penuh maanfaat bagi kami sekeluarga.
Hari Sabtu pagi, kami berangkat menuju Surakarta atau yang lebih dikenal dengan "SOLO". Sengaja kami bangun pagi, kemudian dengan penuh kegembiraan, kami sekeluarga menembus dinginya udara pagi, sambil menikmati sejuknya kabut pagi yang masih menyelimuti sepanjang perjalanan Karangmojo-Semin. Di tengah perjalanan, sebelum sampai di Kecamatan Semin, kami pun berhenti di sebuah gubuk sederhana untuk makan pagi, bekal yang kami bawa.
Ya! Makan pagi bersama di sebuah gubuk sederhana, betapa nikmat dan indahnya. Apalagi melihat si kecil makan dengan lahap, bahkam "menyikat" habis makanannya. Duh betapa bahagianya. Setelah usai makan pagi kamipun melanjutkan perjalanan menuju Solo melalui jalur Semin-Sukoharjo-Solo.
Alhamdulillah perjalanannya sangat lancar, sampai di Solo pukul 08.30. Kami pun meluncur ke Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS). Ya, kami sekelurga memang mengantar istri/umi kami tercinta untuk mengikuti Seminar Nasional Pembelajaran Berbasis ICT, yang dilaksanakan di kampus tersebut. Selesai mengantar, kami bertiga meluncur mencari hotel tempat menginap.
Ada hal yang menarik ketika berburu hotel ini. Karena pertimbangan waktu, sengaja saya memilih hotel yang dekat dengan kampus UNS. Hotel yang kami cari pun ketemu. Saya dengan diiringi oleh 2 buah hatiku, dengan menggendong rangsel besar berisi pakaian, bergegas menuju recepsionis untuk menanyakan apakah masih ada kamar. Namun ternyata kami harus menanggung sedikit kecewa karena semua kamar hotel tersebut penuh. Bahkan petugas resepsionis berkata "Pak, biasanya kalau seprti ini, biasanya semua hotel memang penuh". Aku pun dapat memaklumi alasannya, karena saat itu kebetulan hari Jumat adalah libur nasional. Dengan langkah gontai saya bermaksud meninggalkan hotel, mendadak seorang Bapak yang berpakaian rapi dengan ramahnya mendekati kami, dan berkata "Coba bapak jalan saja ke barat, sebelum lampu merah ada hotel, siapa tahu masih ada kamar kosong". Setelah mengucapkan terima kasih, kami pun meninggalkan lobby resepsionis.
Ketika mengambil motor, saya masih sempat melihat ternyata Bapak yang baik hati tadi masih memandangi kami dengan raut wajah yang diselimuti penuh tanda-tanya. Mungkin dalam benaknya beliau saya disangka baru cek-cok dengan istri lalu kabur menginap ke hotel sambil membawa ke-2 anaknya yang masih kecil. Yah... maklum penampilan kami saat itu "sangat tidak masuk kriteria" menjadi tamu sebuah hotel semewah itu.
Pencarian pun saya lanjutkan, memang benar kata Bapak tadi, akhirnya saya mendapatkan sebuah hotel yang sangat tenang, asri dan sesuai dengan kantong kami.
Begitu masuk ke kamar hotel, anakku Arifah langsung berubah peran "menjadi Ibu" yang sangat cekatan, mengatur barang bawaan kami, untuk diletakkan pada tempatnya....
Dan cerita kebahagiaan ini akan saya sambung pada tulisan yang lain .....
Hari itu kami larut bersama dalam kebahagiaan, keceriaan dan hangat sekaligus penuh maanfaat bagi kami sekeluarga.
Hari Sabtu pagi, kami berangkat menuju Surakarta atau yang lebih dikenal dengan "SOLO". Sengaja kami bangun pagi, kemudian dengan penuh kegembiraan, kami sekeluarga menembus dinginya udara pagi, sambil menikmati sejuknya kabut pagi yang masih menyelimuti sepanjang perjalanan Karangmojo-Semin. Di tengah perjalanan, sebelum sampai di Kecamatan Semin, kami pun berhenti di sebuah gubuk sederhana untuk makan pagi, bekal yang kami bawa.
Ya! Makan pagi bersama di sebuah gubuk sederhana, betapa nikmat dan indahnya. Apalagi melihat si kecil makan dengan lahap, bahkam "menyikat" habis makanannya. Duh betapa bahagianya. Setelah usai makan pagi kamipun melanjutkan perjalanan menuju Solo melalui jalur Semin-Sukoharjo-Solo.
Alhamdulillah perjalanannya sangat lancar, sampai di Solo pukul 08.30. Kami pun meluncur ke Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS). Ya, kami sekelurga memang mengantar istri/umi kami tercinta untuk mengikuti Seminar Nasional Pembelajaran Berbasis ICT, yang dilaksanakan di kampus tersebut. Selesai mengantar, kami bertiga meluncur mencari hotel tempat menginap.
Ada hal yang menarik ketika berburu hotel ini. Karena pertimbangan waktu, sengaja saya memilih hotel yang dekat dengan kampus UNS. Hotel yang kami cari pun ketemu. Saya dengan diiringi oleh 2 buah hatiku, dengan menggendong rangsel besar berisi pakaian, bergegas menuju recepsionis untuk menanyakan apakah masih ada kamar. Namun ternyata kami harus menanggung sedikit kecewa karena semua kamar hotel tersebut penuh. Bahkan petugas resepsionis berkata "Pak, biasanya kalau seprti ini, biasanya semua hotel memang penuh". Aku pun dapat memaklumi alasannya, karena saat itu kebetulan hari Jumat adalah libur nasional. Dengan langkah gontai saya bermaksud meninggalkan hotel, mendadak seorang Bapak yang berpakaian rapi dengan ramahnya mendekati kami, dan berkata "Coba bapak jalan saja ke barat, sebelum lampu merah ada hotel, siapa tahu masih ada kamar kosong". Setelah mengucapkan terima kasih, kami pun meninggalkan lobby resepsionis.
Ketika mengambil motor, saya masih sempat melihat ternyata Bapak yang baik hati tadi masih memandangi kami dengan raut wajah yang diselimuti penuh tanda-tanya. Mungkin dalam benaknya beliau saya disangka baru cek-cok dengan istri lalu kabur menginap ke hotel sambil membawa ke-2 anaknya yang masih kecil. Yah... maklum penampilan kami saat itu "sangat tidak masuk kriteria" menjadi tamu sebuah hotel semewah itu.
Pencarian pun saya lanjutkan, memang benar kata Bapak tadi, akhirnya saya mendapatkan sebuah hotel yang sangat tenang, asri dan sesuai dengan kantong kami.
Begitu masuk ke kamar hotel, anakku Arifah langsung berubah peran "menjadi Ibu" yang sangat cekatan, mengatur barang bawaan kami, untuk diletakkan pada tempatnya....
Dan cerita kebahagiaan ini akan saya sambung pada tulisan yang lain .....
Langganan:
Postingan (Atom)